Efektivitas Dan Efisiensi Bimbingan Skripsi Virtual (online) - SignalNVQueen

Ketika bimbingan skripsi virtual menjadi keluhan hampir seluruh mahasiswa tingkat akhir. Lalu bagaimanakah efektivitas dan efisiensinya? 

Bismillah...
Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini ingin fokus membahas efektivitas dan efisiensi dari bimbingan skripsi secara virtual atau online. Sebagaimana sudah banyak yang menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 memaksa seluruh siswa dan mahasiswa menjalani Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Dan ini menurut saya yang paling berdampak adalah mahasiswa tingkat akhir, dimana realitanya bagi mahasiswa, skripsi menjadi sesuatu yang menakutkan, karena menjadi ujung perjuangan yang harus berhasil dalam tempo waktu penyelesaian adalah 6 bulan saja.

Efektivitas merupakan pencapaian tujuan dengan pemilihan cara yang tepat.
Sedangkan efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam hal ini waktu dan teknologi dalam pencapaian tujuan. 

 Efektifkah bimbingan skripsi virtual/online ?

Sebelum membaca lebih jauh, saya sampaikan bahwa tulisan ini hanya dari segi pandang saya melihat keluhan sebagian besar mahasiswa yang sudah tersebar di media sosial. 
Tidak menghakimi atau menjudge kalau semua keadaan dan kondisi ini 100% terjadi pada seluruh mahasiswa, tetapi jelas ada.  

Jawaban paling tepat dan satu-satunya adalah tergantung dosen dan mahasiswanya. 

Tidak bisa hanya salah satu saja yang bergerak maju, harus kedua belah pihak yang maju dan bergerak bersama. 

Sayangnya hal ini sangat langka terjadi. Meningkatnya kesibukan dosen sebagai pendidik yang harus mengajar online, mengubah semua strategi pembelajaran dan dalam waktu singkat harus mempersiapkan kuliah daring menjadi salah satu penyebab tidak efektifnya bimbingan skripsi online
Picture Courtesy Of Yohanes Tenggara and Grace Tjahyadi

Yang paling sering terjadi adalah dimana mahasiswa menunggu balasan email serta chat ke dosen bimbingan. Alhmadulillah kalau masih dibalas 2 hari kemudian, kadang hanya di read ajah.

Begitu juga revisian, masih beruntung jika revisi dikirim ke email setiap 2 minggu sekali, tapi bagaimana jika 1 bulan lebih baru di balas dan direvisi?

Dengan jangka waktu 6 bulan penelitian harus selesai, hal ini benar-benar menjadi kendala terbesar. Lagi-lagi kesabaranlah yang harus di uji, mau gimana lagi karena mahasiswa tidak punya hak memaksa. 




Menunggu balasan bukanlah satu-satunya kendala, ada satu yang memperparah kondisi adalah tidak dapatnya konsultasi dua arah. Jika saat konsultasi biasanya secara langsung mahasiswa bisa di beri bimbingan mana yang di coret, mana yang salah, dan mana yang keliru. Dan mahasiswa bisa menanyakan kembali mana yang di maksud dosen pembimbing, serta mempertahankan atau menjawab pertanyaan dosen pembimbing. 

 Mahasiswa hanya bisa membaca komentar dosen di dalam skripsinya, tanpa bisa bertanya lebih jauh, dan berkonsultasi bagaimananya, sangat berbeda jauh jika konsultasi dilakukan langsung di ruang dosen. 
Rasanya lebih baik konsultasi langsung dengan ketakutan yang luar biasa ketika disemprot tetapi paling tidak mengerti maksud dosen bagaimana. 

Lalu apakah efisien? 

Jika rentang waktu pengembalian revisi itu sebulan sekali, maka sudah di pastikan tidaklah efisien. Bukan berarti langsung juga efisien, tetapi jika langsung menghadap kita bisa mengusahakan untuk bertemu dengan dosen pembimbing, mulai dari menunggu dosen berhari-hari hingga memelas-melas untuk bertemu.
Menunggu email seperti menunggu janji dari dia, gak pasti 

Berapa frekuensi pengembalian revisi kalian teman-teman?

Begitulah dunia, saat ini justru merindukan sesuatu biasanya kita yang di hindari dan kebiasaan yang kita keluhkan setiap harinya.

Semoga pandemi segera berlalu, dan semua mahasiswa tingkat akhir dapat menyelesaikan skripsinya dengan sebenar-benarnya.

Semangat semua , stay safe
saranghaeyo


49 Comments:

  1. Jadi ikutan ngebayangin, gimana ya jika saya yang ada posisi sekarang. Semua harus dilakukan secara online. Apalagi ini urusan skripsi.
    Dulu waktu bimbingan tatap muka langsung aja revisi banyak banget dan sering lupa ama yang direvisi. Gimana kalau bimbingan online yak:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih terdata kak apa aja yang harus di rubah tetapi bingung maksud dosennya bagaimana hikss

      Delete
  2. Semua bakal serba online. Kebiasaan new normal yang cepat atau lambat kudu diterima. Semangat semua ya para pelajar, panjang umur pendidikan

    ReplyDelete
  3. Sifat manusia selalu pingin ini dan itu. Dikasih ini mintanya itu, dikasih itu mintanya ini. Hehee

    Sebelum ada covid banyak yg merindukan belajar daring..bahkan kampus banyak yg udah mulai sekian persen tatap muka diganti daring. Setelah daring ingin tatap muka lagi. Heheh

    ReplyDelete
  4. Untuk para mahasiswa yang sedang menghadapi skripsi tetap semangat jangan menyerah. Kalian pasti bisa menyelesaikannya.

    ReplyDelete
  5. Baca ini jadi inget kedua adikku. Adik kandungku sedang menembuh skripsi bab 2, sedangkan adik iparku tinggal perbaikan skripsi akhir setelah sidang. Qodratullah, semua tertunda gara-gara pandemi ini. Bener banget bimbingan jadi kurang maksimal.

    ReplyDelete
  6. Ahh kzl emang kalo bimbingan online berasa ga beres-beres. Enakeun yang ketemu langsung. Ngobrol enak, efisien dan hemat waktu ga nunggu balasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik di marahin habis2an ama dosen daripada online gini kak

      Delete
  7. sumpah blog ini mewakili perasaan saya yang sekarang lagi konsultasi online,, sangat tidak efisien karena saya merasa banget dosen tidak teliti, kemudian tidak bisa bertanya lebih lama, lalu dosen saya sampe naik pitam karena saya tidak mengerti.. namun ya begitulah kalo jadi mahasiswa pasti selalu salah terus.. semoga corona ini cepat berlalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa,, huhuhu berpelukan .. semangaaat

      Delete
  8. Makanya dulu saya sengaja pilih dosen bimbingan yang asik. Kebayang kalo dapat dosen killer. Hihihi. Bisa bisa lama lulusnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak bisa milih dosen kak, kalau farmasi, kaprodinya yang menentukan siapa dosbing kita huhuhu

      Delete
  9. Ya ampun bener banget ini mba. Adekku ngerasain nih dibimbing skripsi secara online. Apalagi penelitian dia tuh eksperimen. Sampe disuruh ganti judul. Kasian lihatnya 😭😭😭

    ReplyDelete
  10. Wah semangatt skripsi online ya kak! Yaampun saya nggak bisa bayangin betapa ribet dan menguras kesabaran banget jika harus konsultasi online. Saya yang PJJ dengan tugas seabrek bin dadakan saja sudah sering ngeluh :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tugas PJJ juga banyak nih kak, plus revisi skripsi hikss

      Delete
  11. Saya kuliah di UT, Tugas Akhir berbentuk karya ilmiahnya juga Bimbingan Online. Bingung banget, sampe pusing karena tidak bisa berdiskusi langsung. Akhirnya cuma modal baca buku, cari di internet, dan baca jurnal orang. Selesai juga akhirnya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Owh kalau UT pake online ya kak? Apa sebelum pandemi online juga?

      Delete
  12. Nunggu hasil revisian itu kadang menjemukan. Mau melangkah lagi, takutnya ternyata yang kemarin nggak cocok. Akhirnya stuck aja deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuuul kak, itulah uang di rasakan temen-temen huhuhu

      Delete
  13. Jadi ingat dulu waktu kuliah, nunggu dosen pembimbing berjam-jam. Sekarang dalam kondisi seperti ini mengharuskan mahasiswa konsultasi onlen.. Lebih mudah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mending nunggu dosen berjam-jam kak tapi bisa ketemu dan ngobrol ketimbang online udah nunggu sebulan tapi gak bisa nanya hikss

      Delete
  14. nano-nano ya jadi pembimbing, kadang malah ada aja anak mahasiswa yang kaya ga butuh buat dibimbing pdhl dia yg butuh juga kaau dipikir-pikir. lagi pandemik gini pasti bingung ya bimbingan, enak kalau pembimbing hi tgech dan good komunukiasi kitatgl videocall kalau bingung hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andai dosbing mau VC tapi kan dosen juga punya kesibukan sih hikss

      Delete
  15. Indonesia masih belum sampai kepada tahap yang menggunakan teknologi informasi sebagai alternatif komunikasi dalam dunia pendidikan. Kadang yang dididik belum paham tapi lebih banyak para guru atau dosenya yang masih tertatih-tatih dengan kemajuan teknologi ini. Betul sekali k butuh kedua belah pihak yang masing-masing harus siap sedia belajar agar lebih maju kedepannya. Sukses k

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, padahal udah banyak loh widyaiswara yang sering webinar online malah biasa aja menjalani masa ini, mungkin krn gak pernah di pake jdi ya kagok

      Delete
  16. Ups, ini teguran buat sy jg nih,, ada 2 lg file drad skripsi blom sy apa²in hihi... Inget sih kl mempermudah urusan org insyaallah urusan kita pun akan dimudahkan yahh

    ReplyDelete
  17. Wah saya pelajar dan merasakan juga dampak dari pandemi virus corona ini. Semoga cepat berakhir dan semua kakak-kakak mahasiswa tingkat akhir dapat menyelesaikan skripsinya dengan sebaik mungkin!

    ReplyDelete
  18. Disini ada yang sinyal susah. Harus rela hati nebbeng ke desa tetangga demi dapat sinyal 4g. Huhuhu. Padahal dirumahkan supaya tidak kemana mana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, temanku yang di pedalaman kalau pas kuliah online harus manjat pohon hikss

      Delete
  19. Jadi ingat masa skripsi dulu hhhehe. Emang enaknya ketemu langsung tuh tahu pas dicoret gitu mana maksud Dosen. Apalagi kalau lihat skripsi virtual vs fisik lebih mudah dapat keurangannya kalau yang fisik (typo dll.)

    ReplyDelete
  20. Jadi ikut membayangkan gimana repotnya ya mbak, padahal bukan hanya mahasiswa aja yang dibikin repot sebenernya dosennya juga auto ribet tuh.. btw semoga wabah ini cepat berlalu dan semua kembali spt semula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih liat status dosen juga kek tepar gitu Mba

      Delete
  21. masyaallah semoga dimudahkan bagi semua yang sedang skripsi. emang sih masa begini banyak yang kesulitan ya. bukan yang pencari nafkah aja, para pejuang skripsi juga sama. semoga segera selesai pandemi ini dan bisa segera selesai juga skripsinya. jadi inget dulu skripsi sampai pulang tengah malem demi bimbingan dosen, karena dosennya mau cuti melahirkan, hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, ini dosbing ku qodarulloh lagi sakit DBD

      Delete
  22. Sebenarnya ada untung dan ruginya sih. Menunggu balasan email? Offline juga menunggu. Bahkan, kalau antrean yang mau bimbingan banyak, kl offline bisa sebentar aja bimbingannya. Sama aja sih, tergantung dosen dan mahasiswanya masing-masing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo online sama sekali ga ada bimbingan kak hikss
      Hanya seperti kita naroh skripsi ke meja dosen, trs beberapa minggu kemudian disuruh ambil tanpa bicara apapun ama dosen, makanya gak ngerti kak hikss

      Delete
  23. Rasanya kalau ingat-ingat masa lalu menunggu dosen pembimbing membalas sms saja lamanya minta ampun membuat kesal. hehehe. Pandemi ini banyak merubah segala sesuatu termasuk bimbingan skripsi

    ReplyDelete
  24. Tentu ada yg gak efektif dan gak efisien.

    Namun bagaimanapun harus dilakukan.

    Siswa / Mahasiswa harus prok aktif, sdgkan guru pun juga bgtu. Mski sejatinya rintangan akan sllu Ada.

    Btw semangat ya buat yg lagi skripsian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, harus tetap
      Semangat, makasih ya kak

      Delete
  25. Memang banyak yang mengeluhkan hal ini. Semua level mulai sd hingga mahasiswa. Akan tetapi, kita harus menjaga agar tetap kuat dan sabar karena bagaimanapun kondisi inilah yang harus dihadapi. Mari ambil hikmahnya dan tetap semangat ✊

    ReplyDelete

Harap komentar yang baik dan relevan ya kak,
Saranghaeyo

Follow Me On

Tentang saya

Met datang di blog NVQueen

Hanya blog Anak bawang yang masih belajar menulis untuk menyampaikan info kesehatan, tips-tips dan sedikit signal dari hati

RECENT POSTS

5/recent/post-list